Kanker: Profil Ekspresi Gen Leukimia

Leukimia

GERRIT J. SCHUURHUIS

Department of Hematology, VU University Medical Center, De Boelelaan 1117, 1081HV Amsterdam,  the Netherlands

(7 Desember 2016)

images-42

            Tercatat pada Jurnal Nature, sebuah alat yang mempermudah prediksi pragnosa pasien pengidap leukemia akut. Peneliti memulai dengan mengidentifikasi profil ekspresi gen dari sel-sel yang menunjukkan sifat-sifat khusus atau disebut stemness yang membuat sel-sel itu mampu memicu dan memperpanjang gejala leukemia.

Acute Myeloid Leukaemia (AML) dicirikan dengan adanya kelainan kromosomal dan molekular yang sangat beragam. Hal ini menyatakan bahwa terdapat banyak golongan pasien pengidap AML dengan prognosa yang berbeda-beda. Golongan ini disebut risk groups yang dijadikan titik ukur untuk menentukan jenis perawatan konsolidasi yang harus diberikan pada kemoterapi inisial (terapi induksi).

Sel HSC (asal-usul sel darah merah di sumsum tulang) memiliki sifat stemness, dan mampu mengekspresikan protein CD34 namun tidak mengekspresikan protein CD38 yang membuatnya dikatakan memiliki immunofenotip CD34+ CD38. Sel LSC/Lymphoid Stem Cell (pembentuk limfosit) juga memiliki sifat stemness seperti HSC, namun dapat mengekspresikan protein dengan pola yang berbeda. Telah dibuktikan melalui uji hewan bahwa kemampuan memicu leukemia dari subpopulasi CD34/CD38 dapat berbeda.

Two panels comparing normal peripheral blood vs. leukemia. Used in 40351, 85205.  SOURCE: Lange Basic Histology 7th ed., www. manros_therapeutics.com/en/pipeline

Two panels comparing normal peripheral blood vs. leukemia. Used in 40351, 85205. SOURCE: Lange Basic Histology 7th ed., www. manros_therapeutics.com/en/pipeline

Ng dkk. telah mengisolasi 227 fraksi sel CD34/CD38 dari 78 pasien AML dan menginjeksikannya ke mencit. Mereka menemukan bahwa leukimia dapat terjadi pada kesuluruhan fraksi sel baik  yang diterima, sebagian, ataupun tidak sama sekali dengan fraksi yang berbeda-beda. Tetapi melalui pembandingan ekspresi gen pada fraksi asli pemicu dan yang tidak memicu, dapat diidentifikasi pola ekspresi gen yang langsung memicu leukemia di mencit.

Ng dkk. menggunakan metode statistik untuk menghubungkan ekspresi gen dengan hasil klinis dari 89 gen yang digunakan, serta bagian dari 43 gen yang sangat terekspresikan dalam fraksi sel pemicu leukemia. Melalui ini dapat diidentifikasi 17 panel gen yang ekspresinya menandakan hasil klinis yang buruk. Ng dkk. menemukan kejadian yang serupa pada kelompok pasien AML lainnya, sehingga dapat dibentuk sebuah sistem penilaian berdasarkan panel gen mereka yang disebut LSC17. Metode prognosa menunjukkan hasil yang lebih kuat dibandingkan metode gene profiling lainnya untuk AML.

Ng dkk. menemukan bahwa pola ekspresi gen yang berhubungan dengan stemness pada AML mengalami kelainan kromosomal dan molekuler, serta digunakan sebagai dasar menunjukkan resiko AML pasien. Kemudian, Ng dkk. mengembangkan metode analisis yang mampu membentuk data ekspresi gen dengan cepat sehingga prognosa (prediksi dari kemungkinan perjalanan penyakit) untuk pasien dapat dilakukan dengan cepat.

Seperti yang telah dinyatakan oleh Ng dkk., analisis data yang besar dari hasil studi klinis mengenai mutase sel leukemia dan nilai LSC17 yang ada akan sangat diperlukan untuk menentukan apakah prognosa melalui nilai LSC17 bersifat independen terhadap prognosa dengan nilai mutasinya. Tetapi, populasi kecil dari sel leukemia yang memiliki gandaan genetik (klon) yang ditemukan dalam diagnose dapat tetap bertahan melewati terapi dan berkembang biak, serta menyebabkan kekambuhan (dalam kasus tertentu setelah terjadi mutase tambahan).

Ketika perawatan telah dimulai, faktor-faktor seperti pemenuhan terapi, perubahan pada dosis obat untuk mengurangi efek samping, dan perbedaan antar pasien dalam konsentrasi obat terlarut dalam plasma darah, dapat mempengaruhi sebagian dari efek parameter prognosis diagnosa seperti pola ekspresi gen. Pertimbangan mengenai parameter pasca perawatan seperti pengukuran sisa penyakit (pengukuran jumlah sisa-sisa sel leukemia pada pasien) telah merubah penilaian resiko AML secara drastis. Penilaian kombinasi  sifat seluler pada diagnose, faktor non seluler khusus ketika terapi, frekuensi dan sifat sel yang bertahan setelah perawatan, dan perubahan pada parameter imunologis mampu memberikan prognosa yang lebih teratur dari yang telah ada. Hal ini akan membuat perawatan induksi dan konsolidasi yang lebih dipersonalisasi dapat dilakukan. Studi Ng dkk. merupakan langkah besar menuju penilaian tersebut, terutama pada tahap diagnosa.

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *